WALKING TOUR IN "PECINAN" SEMARANG

21:45

Pernah ga terpintas rasa penasaran untuk mendengarkan cerita dibalik sebuah bangunan atau tempat yang biasanya hanya sebatas sebagai objek foto tanpa kita tahu cerita dibalik itu? Saya biasanya langsung cari ke google mengenai daerah tersebut, namun tetap saja gatel kalau ga ada yang bisa menerangkan secara langsung atau setidaknya ada papan penjelasan di tempat tersebut. Kekuatan story teller dalam bercerita itu mampu membuat otak sang pendengar bekerja untuk mencerna dan mengingatnya. Nah, hari minggu kemarin saya dan Fany memutuskan untuk mengikuti walking tour yang diadakan oleh bersukaria walk, tanpa ekspektasi berlebih karena cuaca semarang yang kalau pagi jam 8 aja udah terik sekali membuat kami "yasudah, yang penting coba dulu aja".



rumah seorang biksu, konon katanya kalau kita masuk ke rumah ini dan meninggalkan kotoran maka kita tidak akan bisa keluar dari pecinan

Walaupun tersasar yang membuat terlambat beberapa menit, untungnya kami tidak ditinggal. Terlihat sudah ada 10 peserta yang hadir, kami tidak saling mengenal namun kami dituntut untuk berkenalan karena kami ini rombongan, entar kalau hilang masak ya pake kode "Mbak yang pake topi itu ketinggalan" yeee kan banyak yang pake topi neng. Setelah berkenalan dan bridging mengenai terbentuknya yang mana kawasan pecinan ini terjadi karena pada tahun 1740 ada namanya "geger pecinan" yaitu pemberontakan orang Tiong Hoa terhadap para sekutu belanda yang dimenangi oleh Belanda, walhasil daerah ini dikuasai mereka sehingga masyarakat tionghoa dikumpulkan di satu kawasan dan disatukan agar mudah untuk diawasi. Untuk ijin keluar kawasan pecinan ini, mereka harus menggunakan semacam paspor khusus bernama passenstelsel. Untuk mensiasati agar kebutuhan pokok terpenuhi terutama pangan, maka dipersilahkannya masyarakat jawa dipersilahkan masuk untuk berjualan di area pecinan. Hal ini juga masih bisa terlihat sampai sekarang, ketika kami menelusuri pasar, yang mana mayoritas masyarakat jawa berjualan di tengah dan masyarakat tionghoa yang berjualan biasanya yang memiliki bangunan di sisi-sisi pasar.

tugu ini difungsikan sebagai banner, dulunya mereka menempel papan pengumuman disana. Serta patung ayam itu menandakan tahun ayam, setiap pergantian tahun akan diganti berdasarkan sio nya.



Sebuah jendela multifungsi khas rumah masyarakat Tionghoa
Patung jaga pendengaran, jaga penglihatan, jaga mulut, dan jaga kelamin 

Ketika menelusuri jalanan, kami diminta untuk berhenti di beberapa spot untuk mendengarkan penjelasan sang story teller, seperti kami diminta untuk melihat atap bangunan yang setengah terbakar. Ada hal unik dari atap tersebut yang menyerupai pelana kuda, itu merupakan bangunan rumah khas tionghoa, namun ketika masa orde baru mereka diminta atau berinisiatif untuk menghilangkan atap tersebut agar tidak mendapatkan hal-hal yang tidak diinginkan, dan sekarang hanya tinggal 25% yang tersisa rumah yang beratapkan pelana kuda. Ciri khas yang kedua adalah bentuk jendela yang multifungsi, yap ada fungsi lain yaitu sebagai meja untuk berjualan. Jadi ada 2 bagian jendela atas dan bawah.
Sambil lalu dan mengobrol dengan teman baru, kami tetap mengikuti arahan story teller untuk berjalan kembali. Sebelum sampai di satu klenteng, kami diperlihatkan dengan satu nama toko kue yang unik yaitu Toko Kue Pia Bayi. Konon katanya kenapa dinamakan begitu karena saat membuka toko, sang pemilik dikaruniai anak bayi. Toko ini selain menjual pia, juga menjual kue bulan dimana pada jaman dahulu kue ini digunakan untuk menyebarkan informasi untuk melawan portugis, caranya kertas informasi tersebut disisipkan di kue terang bulan. Kenapa dengan cara ini?  karena portugis tidak berani membuka kue tersebut yang dipercaya sebagai kue untuk dewa.




Di area pecinan ini terdapat 9 klenteng yang tersebar yang mana memiliki cerita masing-masing, ada satu klenteng yang tidak mendapatkan restu dari dewa sehingga atap klenteng tersebut dibiarkan berwarna putih tanpa ada renovasi seperti atap-atap klenteng yang lain. Ada juga klenteng yang menyembah dewa asli Indonesia. Saya juga baru tau, ternyata ada istilah klenteng besar dan kecil seperti kalau di muslim itu istilahnya ada masjid dan mushola. Untuk klenteng kecil itu dinamakan "Miaw" dan besar "Bio". Ketika tiba di sebuah klenteng dekat pasar bernama "Hok Hok Bio" yang artinya tebar rejeki, ada seorang bapak-bapak yang antusias untuk menceritakan lebih lanjut mengenai apa yang dilakukan masyarakat tionghoa ketika berdoa, ada media namanya ciamsi dimana mereka dipersilahkan memilih mau obat atau pertanyaan lalu dikomunikasikan dengan dewa dengan cara melemparkan 2 buah kayu berbentuk bulat bergambar yin-yang (saya lupa namanya) untuk mengetahui jawabannya. Menariknya ada resep obatnya juga berbentuk kertas yang dipilih sesuai nomor serta ada syair penjawab dari pertanyaan.
Jika kalian memperhatikan setiap klenteng di pecinan terdapat sebuah bedug, ini juga ada filosofinya yaitu dulu sampokong (salah satu klenteng di Semarang) dikuasai oleh yahudi, namun akhirnya berhasil di ambil alih oleh kerajaan demak jadilah sebagai tanda terimakasihnya di tarohlah bedug di setiap klenteng. Nah, di Klenteng Tay Kak Sie ada patung Laksamana Ceng-Ho yang terbuat dari batu, dan setiap perayaan cap go meh patung ini di arak menuju SamPoKong, wah gimana caranya ya berat pasti!

Rombongan walking tour

Rumah kertas yang ikut dibakar ketika penganut kepercayaan konghucu meninggal dunia

Rumah khas masyarakat tionghoa, beratap seperti pelana kuda


Sang bapak pekerja sosial yang menceritakan detail mengenai kebudayaan masyarakat Tionghoa

Lumpia legendaris Semarang 

Kalau diceritain tentang walking tour kemarin ini bener-bener menyenangkan, karena dari tadinya tidak tau apa-apa, saya jadi tau beberapa hal dari cerita di pecinan. Ehehe, ga cuma sekedar mampir untuk kulieran aja! menghabiskan akhir pekan dengan walking tour ke tempat-tempat bersejarah di semarang ternyata mengasyikkan, ga sabar ikut rute lainnya! 

You Might Also Like

3 comments

  1. Ah seru ya walking tour, bisa refreshing sekaligus nambah temen baru :)
    Wah jaman dulu harus pakai paspor keluar masuk kawasan pecinan? Repot juga ya kalo sekarang begitu juga, untungnya sih nggak ;))

    PS: Baca postingan ini jadi kangen makan lunpia semarang pake cabe rawit :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi kamu, iya benar sekali harus pake paspor khusus efek dari pemberontakan masyarakat tionghoa pada jaman dahulu melawan belanda. HEHE Semarang emang identik sekali dengan lunpia ya, walaupun aku pribadi tidak terlalu suka karena ada rebung di dalamnya

      Delete