ONE DAY IN PARIS

06:05

Bonjour Paris,


Cuaca mendung malu-malu menyambut ketika saya menginjakkan kaki di Paris, kota metropolitan yang terkenal dengan fashion dan aksen bahasa yang unik. Musim dingin memang identik dengan gloomy, tidak membuat saya mengurungkan niat untuk mengelilingi Paris. Satu hari itu saya dedikasikan untuk melihat bangunan bangunan yang sering muncul di buku saya. Segera saya mencuci muka setelah melewati 7 jam perjalanan dari Amsterdam menggunakan eurolines. Lalu bergegas membeli tiket tram seharga 2 Euros 70 Cent di sebuah mesin yang berjajar di depan pintu pengecekan tiket, Namun saya sempat melihat beberapa anak muda loncat saja tanpa membeli tiket padahal sesuai dengan apa yang saya baca kalau ketahuan oleh petugas pengecek tiket yang selalu lalu-lalang di setiap gerbongnya akan dikenakan denda yang cukup membuat dompet menjerit.
Tujuan pertama saya yaitu Eiffel Tower. Saya masih belum melihat langit Paris lagi saat itu, karena saya menggunakan alat transportasi umum bawah tanah. Curi-curi saya melihat orang sekitar, wanita paruh baya dengan kacamata dan korannya, laki-laki dengan setelan kantoran-nya asik mendengarkan sesuatu dari headset, serta beberapa orang yang curi-curi melihat saya karena paras Asian pada muka saya. Sambil mendengarkan intruksi jika stasiun tempat pemberhentian sudah dekat.

my best travelmate, Charmaine




Keluar dari peron, angin khas musim dingin berhasil membuat tangan saya beku, sambil melihat peta yang terpampang di dekat tangga keluar stasiun dengan berharap saya dapat mengerti dimana posisi saya sekarang. Sedihnya, saya tetap tidak mengerti. Untung saja, ada seseorang memberitahu dimana menara Eiffel yang ternyata di balik Hotel Shangrila. Terlihat pucuk menara terlihat jelas di mata saya, Ah sudah dekat ternyata, pikir saya.
Setapak demi setapak kaki ini berjalan, saya tidak bisa membendung senyuman lebar untuk keluar ketika melihat sebuah tower tinggi yang biasanya saya lihat dari gantungan flashdisk saya seukuran jari manis. Seakan saya lupa pada apa yang terjadi di Paris 1 bulan sebelum saya ke kota ini, baku tembak dengan dalih terorisme terjadi pada saat itu.



Paris begitu memikat hati, saya berjalan sambil mendengarkan saut-sautan orang berbicara dengan aksen France. Begitu saya masuk pelataran menara, beberapa orang menawarkan gantungan kunci dengan sedikit memaksa. Tidak hanya menawarkan gantungan, tetapi ada juga yang memaksa meminta tandatangan (ini juga saya temukan di Berlin), mereka bilang kalau ini untuk penggalangan dana sosial, ternyata nanti dimintai uang juga. Saya sempat membaca di salah satu blog kalau harus berhati-hati juga di eiffel khususnya dengan barang bawaan, karena banyak pencuri juga di area itu.Annoying juga ya?


-To be continue-

You Might Also Like

0 comments