Belajar di Omah Lor

03:31

Ada kala nya ketika tinggal di lingkungan baru rasanya ingin keliling sana keliling sini sekaligus memperluas informasi agar setidaknya mengenal, hidup itu ga melulu tentang aku, saya, atau diri ini saja. Setiap melihat keramaian, yang ada dipikiranku yaitu manusia segini banyak di dunia ini, pasti adalah 1 atau 2 manusia yang bisa sepemahaman dengan pemikiranku ini untuk bertukar cerita. Beberapa kali cari informasi melalui media sosial khususnya instagram, kegiatan apa ya yang bisa diikuti kalau weekend biar ga di kos-an aja.
Hasil dari keiseng-an scrolling instagram pun membuatku bertemu dengan akun @yayasanbringin yang dikelola Ibu Dwi, beliau mem-posting informasi tentang Ecobricks workshop di instagram. Kilas balik posting-an blog sebelumnya ketika mengunjungi Bumi Langit yang membawaku mencari tempat belajar permakultur yang salah satunya adalah di Omah lor. Lokasi omah lor ini berada di Pakem, perjalanan kesana pun sudah cukup membuatku ingin buru-buru punya rumah disini karena area yang di kelilingi sawah-sawah serta udara khas dataran tinggi yang kadar oksigennya mendominasi, kayaknya kalau di ukur menggunakan aplikasi air visual mungkin warnanya udah hijau. Pohon menjulang tinggi, rumah-rumah berhalaman luas di kanan dan kiri jalan, mari mulai menghayal.


Sesampainya di Omah Lor, ada dua anjing lumayan besar menyambut di depan pagar, tentu dengan gugukan khasnya karena melihat orang asing yang datang ke rumahnya, ternyata namanya Coco dan Noeki. Nuansa tempat ini terlihat "alam sekali" batinku, Bambu-bambu yang di rangkai menjadi bangunan-bangunan kokoh dikelilingi oleh pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan yang mungkin ini jadi sumber kebutuhan pangan Ibu Dwi dan keluarga. Ini semua yang aku liat sepintas seperti yang ada di Hyori Bed and Breakfast, hidup jauh dari perkotaan yang pelik masalahnya.
Sesaat masih clueless workshop ecobricks nya gimana, ternyata kami diajak untuk membuat setengah lingkaran oleh Merla untuk berkenalan satu sama lain.Sesekali saya memperhatikan peserta, ada yang berkecimpung di sebuah NGO, ada yang sudah membuat gerakan tentang lingkungan, ada yang memang senang berkebun, anak muda sekarang keren-keren. Setelah sesi perkenalan, kami pun diajak keliling melihat management sampah di Omah Lor, Ibu dwi memberikan penjelasan dengan jelas dan runtut. Pengolahan sampah dapur yang dibagi ke beberapa kelompok:

  1.  Sampah organik (sayur mayur, sisa makanan) yang nantinya akan dijadikan kompos
  2.  Sampah anorganik: hard plastic, soft plastic yang nantinya dikumpulkan untuk dijadikan ecobricks, namun ingat, harus di cuci dahulu dan dikeringkan.
  3. Barang-barang yang masih bisa dipepanjang umurnya yang akan diberikan ke bank sampah,
Pengelompokan ini mengingatkan ku sama desa Kamikatsu di Jepang videonya bisa ditonton di sini. Di Omah lor ini juga ga ada black water system, untuk limbah manusia (pup) juga akan dijadikan kompos. Jadi kalau ada manusia pup, nanti akan di tumpuk sekam pengganti penyiraman menggunakan air. Hehehe.
Waktu mendengarkan Ibu Dwi menjelaskan tentang kompos, semakin menarik lagi dan diingatkan lagi kalau apapun yang berasal dari alam akan kembali ke alam juga, seperti sampah-sampah organik ini dari sisa makanan, di kumpulkan lalu di tumpuk dengan karbon (bisa kardus, kertas, atau daun-daun kering) dengan komposisi 30% dan 70% nantinya akan ada hewan-hewan kecil yang muncul untuk mengurainya. Kalau dulu belajar biologi kayak gini, mungkin aku ga akan males masuk kelas hahaha.



Sepulang dari Omah Lor, rasanya itu full dan ingin sesegera mungkin bikin kompos di kos-an setelah tanya Bu Dwi kalau ternyata bisa menggunakan pot, nantinya harus diberikan lubang untuk keluar masuk udaranya. Dan iya, berhasil aku bikin kompos di kosan. Sebagian limbah organik aku taroh di pot dengan ditumpuk karbon. Tadinya saya geli, jijik dengan belatung, tapi setelah liat belatung gendut (black soldier fly) rasanya seneng, karena mereka yang bantu menguraikan makanannya. Ingat ga sih, simbiosis mutualisme. Jadinya saling membantu, rasanya pengen belajar lebih lagi. Suatu hari nanti, kalau pundi-pundi udah cukup, batin udah siap, aku mau ikut PDC (Permaculture Design Class) karena suatu hari juga mau ada kebun pangan buat rumahku.

You Might Also Like

0 comments